Prilly Latuconsina Tampil Memukau dengan Kebaya Hitam dalam Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran
Artis Prilly Latuconsina merasakan pengalaman pertamanya mengikuti Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, pada Selasa malam, 16 Juni 2026. Dalam prosesi sakral tersebut, Prilly tampil anggun mengenakan kebaya hitam tradisional yang dirancang khusus oleh desainer Didiet Maulana.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Prilly membagikan berbagai momen sebelum hingga selama mengikuti kirab. Ia memperlihatkan proses persiapan rias wajah, pemakaian kebaya, hingga suasana saat berjalan mengikuti ritual yang berlangsung dengan penuh khidmat.
baca juga”Inspirasi Style 80an Wanita Hijab yang Modis dan Elegan“
Makna Kebaya Hitam Puspo Budoyo Rancangan Didiet Maulana
Didiet Maulana menjelaskan bahwa busana yang dikenakan Prilly merupakan kebaya bertajuk “Kebaya Hitam Puspo Budoyo”. Karya tersebut terinspirasi dari keindahan bunga yang memiliki makna budaya mendalam.
Menurut Didiet, kebaya tersebut sengaja dibuat tanpa tambahan payet agar menampilkan kesan sederhana namun tetap elegan. Busana itu dipadukan dengan kain batik sogan yang memperkuat nuansa klasik sesuai dengan nilai tradisi Mangkunegaran.
Sang desainer juga mengaku senang dapat kembali merancang busana untuk Prilly. Kepercayaan yang diberikan sang aktris membuatnya memiliki ruang lebih luas untuk menghadirkan interpretasi desain yang tetap menghormati aturan adat.
Pengalaman Prilly Mengikuti Tradisi Sakral Mangkunegaran
Prilly menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga besar Mangkunegaran yang telah mengundangnya mengikuti kirab malam 1 Suro. Baginya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk memahami nilai filosofi yang terkandung dalam tradisi Jawa.
Dalam unggahannya, Prilly menulis bahwa perjalanan dalam keheningan selama kirab mengajarkannya tentang refleksi diri, penghormatan kepada leluhur, serta pentingnya menjaga hubungan dengan akar budaya.
Setelah prosesi selesai, Prilly menunjukkan telapak kakinya yang menghitam akibat berjalan tanpa alas kaki. Hal tersebut merupakan bagian dari tata cara kirab, di mana seluruh peserta menjalani laku tapa bisu dengan berjalan dalam keadaan hening tanpa menggunakan alas kaki.
Ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari pengalaman tersebut. Menurutnya, ritual tersebut mengajarkan seseorang untuk lebih tenang, sadar terhadap diri sendiri, dan tetap membumi dalam menjalani kehidupan.
Aturan Busana Perempuan dalam Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran
Pihak Mangkunegaran sebelumnya telah membagikan panduan resmi mengenai ageman atau tata busana peserta kirab melalui akun media sosial resmi mereka.
Untuk peserta perempuan, rambut diwajibkan menggunakan sanggul Jawa tradisional berupa ukel konde dengan tusuk hitam atau penyu. Peserta tidak diperbolehkan mengenakan cundhuk kembang, tusuk konde emas, maupun aksesori berlebihan. Rias wajah juga dianjurkan tetap sederhana.
Busana yang digunakan berupa kebaya Kartini hitam polos berlengan panjang dengan bahan seperti sifon, rayon, satin, atau linen. Kebaya tidak boleh menggunakan bahan beludru dan brokat serta memiliki panjang tidak melebihi lutut.
Kebaya tersebut dipadukan dengan jarik wiru berwarna sogan bermotif Surakarta gaya Mangkunegaran. Motif parang dan lereng tidak diperkenankan dalam prosesi ini. Peserta juga memakai alas kaki hitam yang wajib dilepas ketika kirab dimulai.
Bagi peserta yang mengenakan jilbab, pihak Mangkunegaran memperbolehkan penggunaan jilbab berwarna hitam agar tetap selaras dengan ketentuan busana adat yang berlaku.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Jadi Simbol Pelestarian Budaya Jawa
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Mangkunegaran menjadi salah satu tradisi budaya yang selalu menarik perhatian masyarakat. Pada pelaksanaan tahun 2026, sekitar 10.000 tamu undangan hadir dan sekitar 2.500 peserta ikut berjalan dalam prosesi tersebut.
Kirab dimulai setelah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X memberikan aba-aba pemberangkatan. Enam pusaka yang telah menjalani ritual jamasan kemudian dibawa oleh para abdi dalem untuk dikirab mengelilingi kawasan Kota Surakarta.
Pusaka tersebut terdiri dari lima tombak dan satu pusaka yang ditempatkan di dalam jodang atau kotak kaca. Selama perjalanan, seluruh peserta menjalankan laku tapa bisu sebagai bentuk pengendalian diri dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Rute kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran menuju kawasan Ngarsopuro melalui sejumlah jalan utama, termasuk Jalan Diponegoro, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, dan Jalan Teuku Umar sebelum kembali ke lokasi awal.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menilai tingginya antusiasme masyarakat membuktikan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya tarik kuat di tengah perkembangan zaman. Ia juga mengapresiasi upaya Pura Mangkunegaran dalam menjaga warisan budaya Jawa sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Selain menyaksikan prosesi kirab, masyarakat juga menunggu momen pembagian air jamasan pusaka yang dipercaya membawa keberkahan. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa warisan budaya Jawa tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup dan memiliki makna bagi masyarakat masa kini.
baca juga”7 Potret Bakery Cafe Milik Prilly Latuconsina, Berkonsep Klasik dengan Menu yang Beragam“