Dea Felicia Bawa Karier Hairstylist Indonesia ke New York Fashion Week
Keputusan meninggalkan pekerjaan kantoran membawa Dea Felicia ke perjalanan karier yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari Indonesia, perempuan tersebut kini menjalani profesi hairstylist di New York dan terlibat dalam perhelatan New York Fashion Week atau NYFW.
Baca Juga “26 Karya Mahasiswa ESMOD Jakarta Tampil di Fashion Nation 2026“
Kiprah Dea di industri fashion internasional tidak lahir dari rencana yang langsung tersusun. Ia justru menemukan jalur tersebut setelah kembali menekuni ketertarikannya terhadap dunia rambut.
Pada season Spring/Summer 2027, Dea mendapat kesempatan bekerja dalam 10 pertunjukan selama NYFW. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian penting setelah ia membangun karier sebagai hairstylist di Indonesia.
Ketertarikan pada Rambut Sudah Muncul Sejak Remaja
Minat Dea terhadap dunia rambut sebenarnya telah muncul sejak masih duduk di bangku SMP. Ketertarikan tersebut bahkan sudah terlihat ketika ia masih kecil dan pernah mengikuti les yang berhubungan dengan rambut.
Meski demikian, Dea belum menjadikan minat tersebut sebagai profesi ketika itu. Ia kemudian menjalani pekerjaan kantoran seperti kebanyakan pekerja sebelum akhirnya menyadari bahwa lingkungan tersebut tidak sesuai dengan dirinya.
Dea mengatakan pengalaman bekerja di kantor membuatnya kembali memikirkan hal yang dapat memberikan kepuasan dalam hidup. Keputusan untuk mencari bidang baru akhirnya membuka jalan menuju profesi hairstylist.
“Aku dulu kerja kantoran seperti orang biasa, you know, pekerjaan lainnya, tapi aku merasa nggak cocok dengan lingkup kerjanya,” kata Dea kepada iNews Media Group, Selasa (22/9/2026).
Dea Kembali Belajar Hairstyling pada Akhir 2023
Pada akhir 2023, Dea mengambil keputusan untuk mendalami dunia fashion. Ia kembali menempuh pendidikan di Puspita Martha dengan fokus pada bidang yang berkaitan dengan fashion, khususnya hairstyling.
Setelah menyelesaikan proses tersebut, Dea mulai menjalani profesi hairstylist secara penuh pada tahun berikutnya. Saat itu, ia sebenarnya memiliki gambaran karier yang berbeda dari jalur yang akhirnya ditempuh.
Dea semula ingin mendirikan salon dan mengembangkan bisnis sendiri. Namun, sebuah test shoot mempertemukannya dengan sejumlah pekerja kreatif dan membuka peluang baru di industri fashion.
Dari proyek awal tersebut, Dea mulai memperoleh pekerjaan untuk pemotretan, runway, hingga kebutuhan komersial. Pengalaman itu perlahan membuatnya melihat hairstyling dari perspektif yang lebih luas.
Dunia Fashion Membuka Ruang Kreativitas
Bagi Dea, pekerjaan hairstylist dalam industri fashion memberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi ide. Ia tidak hanya mengerjakan rambut berdasarkan teknik, tetapi juga menerjemahkan konsep visual melalui gaya rambut.
Menurut Dea, fashion memungkinkan dirinya menghasilkan tampilan rambut yang lebih eksperimental. Inspirasi dapat datang dari berbagai hal dan kemudian diterapkan sesuai kebutuhan sebuah proyek.
“Di dunia fashion aku bisa membuat hairstyle yang out of the box menurut aku,” ujar Dea.
Pengalaman di Indonesia menjadi bekal ketika Dea kemudian menghadapi lingkungan kerja yang lebih kompetitif di luar negeri. Ia membawa pengalaman tersebut saat memulai kembali jaringan profesionalnya di New York.
Perjalanan Dea Felicia Membangun Karier di New York
Dea pindah ke New York pada 2026 setelah urusan visa selesai. Kepindahannya berkaitan dengan kehidupan personal karena suaminya merupakan pria yang lahir dan besar di New York.
Meski alasan awal kepindahan berkaitan dengan keluarga, Dea tetap membawa ambisi profesionalnya. Keinginan untuk mengembangkan karier di luar Indonesia sebenarnya telah lama berada dalam rencananya.
“Sebenarnya it’s always, it’s been always in my mind kayak pengin pindah di luar dan menekuni karier di luar,” ungkap Dea.
Setelah berada di New York, Dea kembali membangun jaringan dari awal. Ia aktif mencari informasi tentang proyek fashion, berkomunikasi dengan pekerja kreatif, serta memperkenalkan portofolionya kepada calon rekan kerja.
Referral Menjadi Jalan Mendapatkan Proyek
Dea memanfaatkan media sosial untuk mencari informasi mengenai kebutuhan hairstylist dalam berbagai proyek fashion. Ia juga mempelajari nama-nama hairstylist yang berperan sebagai key hairstylist dalam fashion show.
Selain pencarian secara mandiri, rekomendasi dari sesama pekerja kreatif turut membuka peluang. Menurut Dea, hubungan profesional dan rasa kebersamaan di lingkungan kreatif New York menjadi salah satu faktor yang membantunya mendapatkan informasi pekerjaan.
“Proses yang paling membantu adalah referral dari sesama pekerja kreatif,” kata Dea.
Informasi mengenai sebuah proyek dapat berpindah melalui jaringan pekerja kreatif. Setelah memperoleh informasi, Dea menghubungi pihak terkait melalui email dan memperkenalkan pengalaman serta keahliannya.
Cara tersebut kemudian membawanya kepada berbagai kesempatan kerja di industri fashion New York.
Delapan Bulan di New York, Dea Ikut 10 Show NYFW
Sekitar delapan bulan setelah menetap di New York, Dea memperoleh kesempatan bergabung dalam rangkaian NYFW untuk season Spring/Summer 2027.
Tidak hanya satu pertunjukan, ia terlibat dalam 10 show. Beberapa nama yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Collina Strada, Private Policy, Parsons Fashion School, Calph Gaea, Pamela Roland, Bless by Bless, SC Asenabor, Elena Velez, Shaw, dan Chloe Likspink.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Dea adalah ketika bekerja dalam show Collina Strada. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu show terakhir yang ia ikuti pada season tersebut.
Keterlibatan dalam sejumlah show memberi Dea pengalaman bekerja dalam ekosistem fashion yang memiliki ritme sangat cepat. Ia harus beradaptasi dengan standar kerja dan koordinasi tim yang berbeda dari proyek yang pernah dijalaninya di Indonesia.
Tantangan Hairstylist di Balik Panggung NYFW
Bekerja di balik panggung fashion show membutuhkan kecepatan dan ketelitian. Dea mengungkapkan bahwa tim memiliki waktu terbatas untuk menyelesaikan rambut dan persiapan model sebelum pertunjukan dimulai.
Dalam kondisi tertentu, seluruh persiapan harus selesai sekitar dua jam. Pada waktu yang sama, tim juga perlu menyesuaikan pekerjaan dengan jadwal dress rehearsal.
“Tantangan terbesar adalah mengerjakan rambut sesuai dengan moodboard dalam waktu 2 jam,” jelas Dea.
Kecepatan kerja membuat satu model terkadang ditangani oleh dua hingga tiga hairstylist. Pembagian tugas tersebut membantu tim menyelesaikan seluruh kebutuhan rambut sesuai konsep dan batas waktu yang tersedia.
Kerja Tim Menjadi Keterampilan Penting
Pengalaman Dea di NYFW membuatnya melihat bahwa kemampuan hairstyling bukan satu-satunya hal yang diperlukan. Koordinasi dengan anggota tim juga menjadi bagian penting dalam menyelesaikan pekerjaan di belakang panggung.
Setiap hairstylist perlu memahami arahan dan konsep yang telah ditentukan. Mereka juga harus mampu menyesuaikan pekerjaan ketika situasi di backstage berubah dengan cepat.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran baru bagi Dea. Ia dapat mengembangkan kemampuan teknis sekaligus memahami pola kerja dalam produksi fashion berskala internasional.
Dea Felicia Ingin Terus Berkarya di Industri Fashion AS
Perjalanan Dea sebagai hairstylist di New York masih terus berlangsung. Ia mengaku belum merasa ingin meninggalkan bidang tersebut meskipun harus menghadapi berbagai tantangan selama membangun karier di lingkungan baru.
Baca Juga “Dekranasda Dorong Inovasi Pewarna Alami dan Fashion Moderen Tenun Tanimbar“