LSP Fashion Indonesia Dikembangkan untuk Perkuat Kompetensi Industri Fesyen
Indonesian Fashion Chamber (IFC) mengembangkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Fashion Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri fesyen nasional. Inisiatif tersebut tidak hanya berfokus pada sertifikasi, tetapi juga mendorong standar kompetensi sumber daya manusia yang lebih terukur.
Pengembangan LSP Fashion Indonesia diarahkan untuk membantu tenaga profesional di bidang fesyen memperoleh pengakuan kompetensi yang jelas. Standar tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat daya saing industri fesyen Indonesia.
Salah satu pendiri IFC, Lisa Fitria, mengatakan pengembangan LSP menjadi bagian dari proyek yang dirancang untuk membangun fondasi industri fesyen yang lebih profesional.
“Proyek ini bukan hanya mengenai sertifikasi, tetapi bagaimana kita membangun standar kompetensi SDM Fashion Indonesia agar memiliki kompetensi yang lebih terukur dan juga profesional,” kata Lisa kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Lima Skema Kompetensi Disiapkan LSP Fashion Indonesia
LSP Fashion Indonesia dikembangkan dengan lima skema kompetensi yang mencakup berbagai jenjang profesi kreatif. Kelima skema tersebut terdiri atas Assistant Fashion Designer, Junior Fashion Designer, Fashion Designer, Fashion Stylist, dan Creative Director.
Baca Juga “16 Kecamatan Ikuti Fashion Show HKG PKK ke-54 di Kutai Barat“
Rangkaian skema tersebut mencerminkan kebutuhan kompetensi dalam berbagai tahapan proses kreatif industri fesyen. Profesi perancang busana, penata gaya, hingga pengarah kreatif memiliki tanggung jawab berbeda dalam menghasilkan dan mengembangkan sebuah karya.
Menurut Lisa, LSP Fashion Indonesia menjadi LSP di bidang kreatif fesyen yang pertama memiliki lima skema kompetensi tersebut. Kehadiran skema yang lebih beragam diharapkan dapat memberikan pilihan sertifikasi sesuai dengan bidang profesional masing-masing pekerja.
Sertifikasi kompetensi juga dapat menjadi instrumen untuk memetakan kemampuan tenaga kerja secara lebih terstruktur. Dengan standar yang jelas, pelaku industri dapat memiliki acuan ketika mengembangkan kapasitas profesional dan kebutuhan sumber daya manusia.
Penguatan kompetensi menjadi semakin penting ketika industri fesyen Indonesia berupaya memperluas pasar. Produk fesyen tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga sumber daya manusia yang memahami proses produksi, pengembangan konsep, identitas merek, serta kebutuhan pasar.
IFC Kembangkan Konsep Fesyen Berkelanjutan dan Modest
Selain membangun LSP, IFC juga mengembangkan gagasan yang menggabungkan fesyen berkelanjutan, luxury, modest fashion, dan gaya hidup. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menciptakan produk yang memiliki nilai estetika sekaligus relevan dengan kebutuhan konsumen.
Salah satu gagasan yang tengah dikembangkan menyasar kebutuhan busana dan gaya hidup untuk perjalanan umrah serta haji. Konsep tersebut menggabungkan kebutuhan aktivitas ibadah dengan desain fesyen yang modern dan berkualitas.
Lisa menjelaskan produk yang dikembangkan tidak hanya mempertimbangkan fungsi pakaian. Pengembangan merek juga diarahkan agar memiliki prinsip keberlanjutan dan mampu membangun posisi di pasar global.
“Konsepnya adalah bagaimana kebutuhan ibadah dapat diterjemahkan menjadi produk fesyen yang modern, berkualitas, berkelanjutan dan juga memiliki positioning yang global,” ujarnya.
Gagasan tersebut menunjukkan peluang pengembangan modest fashion yang menggabungkan kebutuhan khusus konsumen dengan pendekatan desain kontemporer. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat memenuhi aspek fungsional sekaligus memiliki identitas yang kuat.
Merek Fesyen Indonesia Ditargetkan Masuk Pasar Global
Pengembangan merek tersebut tidak berhenti pada pasar domestik. Lisa memiliki visi untuk membawa merek yang sedang dibangun hingga memiliki toko atau outlet di sejumlah negara.
Menurut Lisa, ekspansi tersebut merupakan salah satu target jangka panjang yang mulai dipersiapkan. Pengembangan merek global membutuhkan strategi yang mencakup desain, kualitas produk, identitas merek, distribusi, serta pemahaman terhadap karakter konsumen di berbagai pasar.
“Itu salah satu mimpi yang sekarang mulai kami bangun,” kata Lisa.
Rencana tersebut juga memperlihatkan arah pengembangan fesyen Indonesia yang tidak hanya berorientasi pada produksi. Industri fesyen memiliki peluang untuk membangun merek dengan karakter Indonesia yang mampu diterima di pasar internasional.
Kekuatan identitas menjadi salah satu aspek yang dapat membedakan produk Indonesia dari kompetitor global. Perpaduan antara nilai lokal, desain modern, dan prinsip keberlanjutan dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.
Lisa Siapkan Koleksi Batik Kontemporer untuk Oktober
Lisa juga merencanakan peragaan busana koleksi terbaru pada Oktober. Dalam proyek tersebut, ia akan berkolaborasi dengan artisan batik untuk menghadirkan interpretasi baru terhadap kain tradisional Indonesia.
Koleksi tersebut akan menampilkan batik dengan motif polkadot yang dikembangkan secara kontemporer. Motif tersebut akan dipadukan dengan sejumlah motif batik lain yang juga mendapatkan pengembangan dalam pendekatan desain modern.
Kolaborasi dengan artisan batik menjadi bagian penting karena menghubungkan kreativitas desainer dengan keterampilan perajin. Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi pengembangan batik agar tetap memiliki akar tradisi sekaligus relevan dengan tren fesyen.
Peragaan busana tersebut dijadwalkan berlangsung dalam Into Motion Fest. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang diprakarsai Bank Indonesia bersama Indonesian Fashion Chamber.
IFC Dorong Industri Fesyen Berbasis Identitas dan Keberlanjutan
Berbagai proyek yang dikembangkan IFC memiliki tujuan yang saling berkaitan. Menurut Lisa, pengembangan tersebut diarahkan agar industri fesyen Indonesia tidak hanya menghasilkan produk yang menarik secara visual.
Fesyen juga diharapkan mampu menciptakan nilai melalui identitas, kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan prinsip keberlanjutan. Pendekatan tersebut dapat memperkuat fondasi industri sekaligus meningkatkan nilai produk di mata konsumen.
Penguatan kompetensi melalui LSP menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Standar kompetensi yang lebih terukur dapat membantu menciptakan tenaga profesional yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan industri.
Sementara itu, pengembangan produk berkelanjutan dan modest fashion membuka peluang bagi industri untuk menjangkau segmen pasar yang lebih spesifik. Kombinasi antara inovasi desain dan identitas lokal dapat menjadi modal untuk memperluas pasar.
Lisa berharap proyek-proyek tersebut memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan koleksi pakaian. Ia ingin pengembangan fesyen turut berkontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional.
Riset Busana Muslim Indonesia Disiapkan untuk Dukung Visi Global
Lisa juga berencana melanjutkan pendidikan magister di bidang industri kreatif pada tahun ini. Rencana tersebut akan diarahkan untuk memperdalam kajian mengenai perkembangan industri fesyen dan ekonomi kreatif.
Dalam penelitian yang ingin dikembangkan, Lisa berencana menggali peta jalan busana muslim Indonesia. Kajian tersebut ditujukan untuk melihat peluang Indonesia menjadi pusat modest sustainable fashion dunia.
Peta jalan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam industri busana muslim global. Potensi pasar, kreativitas desainer, kekayaan budaya, serta ekosistem ekonomi syariah menjadi sejumlah faktor yang dapat dikembangkan secara terpadu.
Pengembangan LSP Fashion Indonesia, inovasi batik kontemporer, serta gagasan modest sustainable fashion menunjukkan arah yang saling berhubungan. Seluruh inisiatif tersebut menempatkan kompetensi, identitas, inovasi, dan keberlanjutan sebagai elemen penting industri fesyen.
Baca Juga “IFA Archipelago Perluas Ekosistem Fashion dan Estetika ke Kalimantan Selatan“