KONTROVERSI BUSANA AIME LEON DORE: MOTIF BATIK DISEBUT “CETAKAN ABSTRAK” DI PESTA MODE
Warganet Asia Tenggara dibuat geram setelah Aime Leon Dore, brand fashion asal New York merilis desain busana dalam koleksi SS26 yang dianggap meniru motif batik. Busana yang dijual dengan harga Rp 3,9 juta tersebut dinilai oleh sebagian orang mirip dengan motif batik tambal tradisional, tetapi diberi nama “Printed Abstract Shirt” atau kemeja dengan cetakan abstrak.
baca juga”Gaun Nyentrik Lisa Rinna Terbuat dari 5 Kg Rambut Manusia di Oscar 2026“
MASYARAKAT ASIA TENGGARA PROTES: BUSANA DITUDUH SEBAGAI APPROPRIATION BUDAYA
Kontroversi ini mencuat ketika salah satu pengguna X menanggapi perilisan busana tersebut dengan cuitan: “Ooh SEABlings (sebutan warganet Asia Tenggara), saya butuh kalian marah atas hal-hal yang bersifat appropriative seperti ini.” Komentar tersebut langsung mendapat respons dari pengguna lain yang menyayangkan Aime Leon Dore tidak memberikan penghargaan atau kredit kepada budaya batik.
Sebagian besar warganet mengkritik keras keputusan brand tersebut yang tidak menyebutkan bahwa motif pada busana tersebut terinspirasi dari batik Indonesia, khususnya motif batik tambal dari Yogyakarta. “Yang menyedihkan adalah semuanya bisa jauh lebih baik jika mereka menyebutkan/memberikan kredit dengan tepat (menyebut motif batik),” tulis salah satu komentar yang viral.
BATIK TAMBAL: MAKNA SAKRAL DI BALIK MOTIF TRADISIONAL
Batik tambal adalah motif tradisional yang berasal dari Yogyakarta, Indonesia, yang memiliki makna mendalam dalam budaya Jawa. Motif ini menggambarkan potongan-potongan kain yang dijahit bersama dalam pola-pola kecil, membentuk satu kesatuan yang terhubung erat. Dalam tradisi Jawa, batik tambal dipercaya memiliki makna penyembuhan baik secara fisik maupun batin.
Kain batik tambal sering digunakan untuk menyelimuti orang yang sakit karena diyakini dapat membawa energi penyembuhan. Dalam konteks sosial, batik tambal juga melambangkan perbaikan kehidupan dan pemulihan setelah kesulitan. Oleh karena itu, banyak yang merasa marah dan kecewa ketika motif yang memiliki makna spiritual dan budaya yang dalam ini dianggap hanya sebagai “motif abstrak” dalam koleksi fashion internasional.
PENGHINAAN TERHADAP KEBUDAYAAN: KOMENTAR WARGANET
Sejumlah komentar di media sosial mengungkapkan kekecewaan terhadap Aime Leon Dore yang memilih untuk menyebut motif tersebut sebagai “kemeja cetakan abstrak” tanpa memberikan kredit pada batik atau asal-usulnya. “Meremehkan signifikansi tekstil, budaya, dan tradisionalnya dengan menyebutnya sebagai ‘kemeja cetakan abstrak’ adalah penghinaan yang sangat besar,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Bahkan ada yang mempertanyakan kualitas desain di brand ternama asal AS ini, dengan komentar yang menilai, “Apakah AS masih menghasilkan alumni desain terbaiknya? Mereka yang kuliah di Parsons, bernarkah?”
KONTEKS SEBELUMNYA: KONTROVERSI SERUPA PADA LOUIS VUITTON DAN DIOR
Ini bukanlah pertama kalinya industri fashion internasional mengalami kontroversi terkait motif batik. Beberapa tahun lalu, Louis Vuitton dan Christian Dior juga pernah dikritik karena merilis koleksi yang memiliki kemiripan dengan motif batik. Desainer Maria Grazia Chiuri dari Dior, yang memperkenalkan koleksi dengan sentuhan wax print Afrika, sempat mendapat sorotan tajam, meski ia tidak menyebut batik secara eksplisit.
Desainer Musa Widyatmodjo menjelaskan bahwa meskipun teknik batik berasal dari Indonesia, banyak negara yang juga menggunakan teknik serupa, seperti China, Mesir, India, dan Jepang. Musa menekankan bahwa meskipun banyak negara yang menggunakan teknik ini, tetap perlu untuk memberikan pengakuan pada batik Indonesia yang memiliki nilai dan makna budaya tersendiri.
TANGGAPAN DARI DESAINER MUSA WIDYATMODJO
Musa Widyatmodjo menambahkan dalam Fashion Talk yang dipandu oleh Amy Wirabudi pada 2020 bahwa istilah batik memang berasal dari Indonesia, namun proses menggambar motif di atas kain dengan menggunakan malam (wax) adalah teknik yang telah digunakan secara luas di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa meskipun proses batik tidak hanya ditemukan di Indonesia, pengakuan terhadap budaya dan asal usul motif tersebut sangatlah penting.
“Harus dipahami bahwa istilah batik memang dari Indonesia, namun proses menggambar motif di atas kain putih pakai malam itu ada di mana-mana. China, Mesir, India, Jepang, banyak yang pakai teknik ini,” ungkapnya.
KESIMPULAN: PENTINGNYA PENGHARGAAN TERHADAP BUDAYA DALAM FASHION
Kontroversi terkait busana dari Aime Leon Dore menunjukkan betapa pentingnya penghargaan terhadap budaya lokal dalam dunia fashion global. Motif batik bukan hanya sebuah desain, melainkan bagian dari warisan budaya yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Indonesia. Dalam dunia mode yang semakin terhubung secara global, sangat penting bagi setiap desainer untuk memberikan penghargaan kepada sumber inspirasi mereka, apalagi jika mengangkat elemen budaya yang memiliki sejarah panjang seperti batik.
Penting bagi masyarakat dan dunia mode untuk lebih sadar akan pentingnya penghargaan budaya dan pengakuan yang tepat terhadap karya-karya tradisional yang menjadi bagian dari identitas suatu bangsa. Ke depan, diharapkan perdebatan semacam ini dapat mendorong diskusi yang lebih konstruktif tentang appropriasi budaya dan menghargai nilai-nilai yang terkandung dalam setiap elemen desain.
baca juga”Keistimewaan Motif Batik Ayam yang Kini Dipamerkan di Museum Batik Indonesia“