Wastra Hitakara Dorong ASN Gunakan Endek dan Dukung IKM Bali
Dekranasda Bali Fashion Day bertajuk “Wastra Hitakara” menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi Bali memperkuat pelestarian kain tenun endek sekaligus menggerakkan industri kecil dan menengah (IKM) lokal.
Baca Juga “Fashion Show Kolaborasi Meriahkan Festival QRIS Pasar Aceh“
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Senin (31/8). Acara menghadirkan kolaborasi antara kain endek, desainer lokal, model, koreografer, serta musisi.
Selain memperkenalkan kreativitas busana berbasis wastra Bali, kegiatan tersebut mendorong aparatur sipil negara (ASN) untuk berperan sebagai pengguna dan konsumen produk IKM serta UMKM Bali Bangkit.
Kebijakan Busana Endek Dorong Pelestarian Wastra Bali
Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster mengatakan penggunaan endek oleh ASN memiliki tujuan yang lebih luas daripada menciptakan keseragaman busana.
Kebijakan Gubernur Bali mewajibkan penggunaan busana berbahan endek setiap Selasa dan Jumat. ASN juga menggunakan kain endek sebagai bagian dari busana adat pada Kamis, HUT Pemerintah Provinsi Bali, serta rahina Purnama dan Tilem.
Menurut Putri Koster, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya berupa kain tenun tradisional Bali. Setiap wilayah di Bali memiliki karakter motif dan kekhasan wastra yang perlu terus dipertahankan.
Penggunaan endek secara konsisten juga diharapkan menciptakan permintaan terhadap produk perajin. Peningkatan permintaan dapat membantu menjaga aktivitas ekonomi penenun, perajin, dan pelaku IKM yang bergantung pada produksi wastra.
ASN Diajak Membeli Produk Perajin Lokal
Putri Koster mengajak ASN tidak hanya menggunakan kain endek sebagai bagian dari ketentuan busana. Ia mendorong ASN ikut membeli produk IKM Bali Bangkit dan produk perajin dari sentra endek di berbagai daerah.
Menurutnya, pilihan konsumen memiliki pengaruh terhadap keberlanjutan industri kerajinan lokal. Semakin besar masyarakat menggunakan produk buatan perajin Bali, semakin terbuka pula peluang bagi produk tersebut untuk berkembang.
“Mari kita belajar bersama untuk mencintai produk lokal buatan perajin Bali, perajin yang merupakan saudara kita sendiri.Jika bukan kita yang peduli terhadap warisan leluhur, siapa lagi yang akan menjaganya?” tegas Putri Koster.
Ajakan tersebut sekaligus menempatkan ASN sebagai bagian dari ekosistem ekonomi lokal. Penggunaan dan pembelian produk daerah dapat menjadi bentuk dukungan langsung terhadap keberlangsungan usaha perajin.
Putri Koster Ingatkan Persaingan Produk dari Luar Bali
Putri Koster juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan produk kerajinan lokal hanya karena produk dari luar daerah memiliki harga lebih murah.
Ia menilai masuknya produk luar Bali dapat menjadi tantangan bagi keberlangsungan perajin lokal. Kondisi tersebut perlu dihadapi dengan meningkatkan kecintaan terhadap produk daerah dan memperluas pasar bagi hasil produksi perajin Bali.
“Jangan sampai produk kita semakin terpinggirkan, bahkan hilang, karena kita lebih memilih membeli dan menggunakan produk troso, yakni produk buatan luar Bali yang didatangkan dan dijual di Bali dengan harga murah,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian wastra tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Masyarakat sebagai konsumen juga memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan produk budaya dan industri kreatif lokal.
Wastra Hitakara Padukan Endek dan Kreativitas Desainer
Dekranasda Bali Fashion Day menjadi bagian dari trilogi fashion show yang digelar Dekranasda Provinsi Bali. Acara tersebut tidak hanya menampilkan busana, tetapi juga mempertemukan berbagai unsur dalam industri kreatif.
Kain tenun endek menjadi salah satu elemen utama dalam peragaan busana. Desainer muda Bali kemudian mengolahnya melalui rancangan yang memadukan karakter tradisional dengan pendekatan mode yang lebih kontemporer.
Pertunjukan juga melibatkan model, koreografi, dan komposisi musik. Kolaborasi tersebut membuat kain endek tampil dalam format yang lebih dekat dengan perkembangan industri mode.
Pendekatan kreatif seperti ini dapat membantu memperluas penggunaan endek. Wastra tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai simbol budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dekranasda Dorong Ekosistem Industri Mode Berbasis Wastra
Dekranasda Provinsi Bali berupaya membangun ekosistem mode yang melibatkan perajin, penenun, desainer, pelaku IKM, dan konsumen. Setiap unsur memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan rantai produksi kain endek.
Perajin dan penenun berperan menjaga kualitas serta karakter kain. Sementara itu, desainer dapat mengembangkan produk dengan desain yang sesuai kebutuhan pasar tanpa menghilangkan identitas wastra Bali.
Konsumen kemudian menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pasar. Ketika permintaan terhadap produk lokal meningkat, peluang bagi pelaku IKM untuk mempertahankan dan mengembangkan produksi juga semakin terbuka.
Karena itu, Dekranasda Bali Fashion Day membawa pesan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan penguatan ekonomi. Kain endek dapat tetap memiliki identitas tradisional sekaligus berkembang sebagai bagian dari industri kreatif.
Gubernur Bali Apresiasi Promosi Produk IKM dan UMKM
Gubernur Bali Wayan Koster turut hadir menyaksikan Dekranasda Bali Fashion Day. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai salah satu cara kreatif untuk memperkenalkan produk IKM dan UMKM kepada masyarakat.
Menurut Koster, kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif bagi produsen dan penjual produk lokal. Selain itu, kegiatan bersama dapat memperkuat interaksi dan kebersamaan di lingkungan perangkat daerah.
“Secara khusus, kegiatan ini memberikan kesan tersendiri dalam cara mempromosikan produk IKM/UMKM secara tidak langsung dan memberikan dampak positif bagi penjual maupun produsen,” ujar Koster.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut turut menggairahkan suasana internal perangkat daerah. Koster juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.
Empat Perangkat Daerah Ikut Meramaikan Fashion Day
Dekranasda Bali Fashion Day kali ini melibatkan empat perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. Keempatnya berpartisipasi dalam kegiatan yang menggabungkan promosi produk lokal dengan kreativitas busana.
Perangkat daerah yang terlibat terdiri dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Bali. Selanjutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali juga mengambil bagian.
Dua perangkat daerah lainnya adalah Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali serta Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Bali.
Keterlibatan lintas perangkat daerah memperlihatkan bahwa promosi produk lokal dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas pemerintahan. Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi ASN untuk terlibat langsung dalam pengenalan produk IKM.
Wastra Hitakara Perkuat Peran ASN dalam Ekonomi Lokal
Dekranasda Bali Fashion Day “Wastra Hitakara” menempatkan kain endek sebagai bagian dari budaya sekaligus aktivitas ekonomi. Pelibatan ASN memperluas peran pemerintah dalam membangun permintaan terhadap produk perajin lokal.
Keberlanjutan gerakan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan, perajin menjaga kualitas, desainer menciptakan inovasi, sedangkan masyarakat memberikan dukungan melalui pilihan konsumsi.
Dengan kolaborasi tersebut, kain endek memiliki peluang untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitas budayanya. Pada saat yang sama, peningkatan penggunaan produk lokal dapat membantu memperkuat aktivitas IKM dan UMKM Bali.
Baca Juga “Dari Idol ke First Face: Momen Fashion Dylan Baru Saja Dimulai“