Etty Kenalkan ZeroWaste lewat Tenun Jepara

ZeroWaste

Etty Dorong Zero-Waste Fashion Lewat Tenun Jepara dan Activewear Ramah Lingkungan

Industri mode global terus menghadapi tekanan besar terkait dampak lingkungan. Data Global Fashion Agenda mencatat industri fesyen menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Sebagian besar limbah tersebut berasal dari sisa potongan kain di tahap produksi yang kerap berakhir di tempat pembuangan akhir.

Rata-rata industri pakaian konvensional membuang sekitar 15% hingga 20% bahan baku kain selama proses pemotongan pola. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab meningkatnya sampah tekstil dunia di tengah tren fast fashion yang terus berkembang.

Melihat persoalan tersebut, desainer asal Malang, Bopha Noor Akbar atau yang akrab disapa Etty, mulai menerapkan konsep zero-waste fashion design dalam proses produksinya. Bersama kolektif Ku-semai, ia mengembangkan metode desain yang bertujuan menekan sisa kain hingga mendekati nol persen.

Baca Juga “Gelang Batu Giok Kian Diminati, Dipercaya Bawa Ketenangan dan Energi Positif

Teknik Zero-Waste Digunakan untuk Mengurangi Limbah Produksi Fashion

Etty menjelaskan metode zero-waste diterapkan sejak tahap pembuatan pola pakaian. Teknik ini mengutamakan efisiensi potongan kain agar hampir tidak ada material yang terbuang selama proses produksi.

Menurutnya, metode konvensional sering menghasilkan banyak limbah perca, terutama ketika menggunakan kain tenun yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Satu baju konvensional berukuran 2,5 meter itu sisa percanya banyak sekali. Kain tenun itu mahal, kalau dipotong konvensional lalu dibuang, itu mubazir,” ujar Etty.

Ia kemudian mengembangkan pola spiral pada beberapa desain pakaian, termasuk celana, agar proses pemotongan kain dapat meminimalkan limbah. Teknik tersebut memungkinkan kain digunakan lebih maksimal tanpa banyak menyisakan potongan kecil.

Sisa Kain Tenun Diolah Menjadi Aksesori dan Detail Busana

Etty tidak hanya fokus mengurangi limbah utama dari proses pemotongan. Potongan kain mikro yang masih tersisa juga dimanfaatkan kembali menjadi elemen dekoratif dan aksesori fesyen.

Sisa perca tersebut diolah menjadi detail tambahan pada pakaian denim, ikat kepala, hingga aksesori fungsional lain. Langkah ini menjadi bagian dari konsep circular fashion yang mulai berkembang di industri mode global.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya melawan dominasi activewear berbahan poliester sintetis. Material berbasis plastik itu diketahui membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami.

Tenun Cacat Produksi Disulap Menjadi Produk Fashion Bernilai Jual

Gerakan slow fashion yang dikembangkan Etty juga menyasar sektor hulu produksi kain tradisional. Ia membeli kain tenun lokal yang mengalami cacat produksi ringan dan biasanya ditolak pasar reguler.

Kain-kain tersebut kemudian diolah kembali menjadi pakaian siap pakai dengan harga yang lebih terjangkau. Produk fesyen berbahan tenun itu dipasarkan di kisaran Rp400.000 hingga Rp500.000.

Menurut Etty, langkah tersebut membantu mengurangi limbah tekstil sekaligus mendukung keberlangsungan pengrajin lokal. Pendekatan ini juga membuka peluang baru bagi kain tradisional agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Sampah fashion itu kalau tidak dimanfaatkan dengan baik hancurnya cukup lama. Saya berusaha memberikan edukasi soal pola zero-waste ini,” katanya.

Kolaborasi dengan Mahasiswa untuk Edukasi Recycle Fashion

Selain memproduksi pakaian ramah lingkungan, Etty juga aktif mengedukasi masyarakat terkait pentingnya pengelolaan limbah tekstil. Salah satu upayanya dilakukan melalui kolaborasi dengan mahasiswa Universitas Brawijaya dalam proyek daur ulang pakaian.

Melalui kegiatan tersebut, Etty ingin memperkenalkan konsep recycle fashion dan pola konsumsi fesyen yang lebih berkelanjutan kepada generasi muda.

Edukasi tersebut dinilai penting karena tren fast fashion masih mendorong masyarakat membeli pakaian dalam jumlah besar dengan siklus penggunaan yang singkat.

Tenun Jepara Hadir di Panggung Surabaya Sport Fashion Festival 2026

Eksperimen menggabungkan kain tenun dengan konsep pakaian olahraga dilakukan Etty untuk tampil di Surabaya Sport Fashion Festival 2026 atau SSFF 2026.

Ajang tersebut mengusung tema pengembangan pakaian olahraga berbasis wastra Nusantara. Para desainer didorong mengeksplorasi kain tradisional sebagai alternatif material fesyen modern.

Etty melihat panggung SSFF sebagai ruang untuk membuktikan bahwa activewear tidak harus selalu bergantung pada bahan sintetis berbasis plastik. Ia ingin menunjukkan bahwa tenun tradisional juga dapat tampil modern, nyaman, dan fungsional.

Bagi komunitas Ku-semai, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan wastra Nusantara di pasar urban. Mereka ingin menghadirkan produk fesyen yang tidak hanya modis, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan lingkungan.

Zero-Waste Fashion Dinilai Jadi Masa Depan Industri Mode Berkelanjutan

Konsep zero-waste fashion kini semakin mendapat perhatian di industri mode dunia. Banyak brand mulai mengadopsi pendekatan produksi yang lebih efisien untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah tekstil.

Langkah yang dilakukan Etty menunjukkan bahwa inovasi fesyen berkelanjutan juga dapat berkembang dari industri kreatif lokal Indonesia. Melalui kombinasi teknik zero-waste, pemanfaatan tenun tradisional, dan edukasi publik, konsep slow fashion dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari masa depan industri mode nasional.

Pendekatan tersebut sekaligus membuktikan bahwa produk ramah lingkungan tetap dapat tampil modern, adaptif, dan memiliki nilai komersial di tengah persaingan fast fashion global.

Baca Juga “Perempuan Penyintas di Bisnis Aksesori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *